Friday, 28 October 2016

Persebaran (agihan) Permukiman Penduduk di Berbagai Bentang Lahan dan Alasan Penduduk Memilih Bermukim di Suatu Lokasi



Yang menjadi salah satu alas an utama penduduk memilih tempat tinggal atau permukiman yaitu faktor kemungkinan hidup sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Apabila faktor kemungkinan hidup di suatu tempat memberikan harapan yang menjanjikan, maka tempat tersebut akan dihuni oleh penduduk dalam jumlah yang banyak atau padat. Sebaliknya, di tempat yang mermlikik faktor pendukung kehidupan yang sangat kurang, jumlah penduduknya sedikit atau jarang.
Beberapa faktor pendukung kehidupan yaitu terdapatnya sumber air, bahan pangan, bahan bangunan, sarana lalu lintas, dan faktor relief muka bumi yang memungkinkan untuk dijadikan permukiman. Faktor-faktor pendukung kehidupan tersebut sangat besar pengaruhnya pada penyebaran jumiah penduduk. Misalnya jumlah penduduk yang tinggal di bentang alam yang terdiri dari gurun pastr yang luas seperti Gunm Sahara di Afrika dan Gurun Gobi di Asia Tengah sangat sedikit. Di daerah-daerah dengan kondisi seperti ini dijumpai pola permukiman penduduk yang terpencar-pencar berjauhan satu sama lain. Faktor penyebabnya yaitu karena di daerah gurun sangat sulit diperoleh air. Sumber mata air di daerah gurun hanya terdapat di daerah sekitar oase dan mata air artesis, itupun dalam jumlah yang sangat terbatas. Penduduk di daerah gurun bertempat tinggal di sekitar sumber air, karena air merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan. Faktor inilah yang menyebabkan mengapa di daerah gurun penduduknya sangat jarang. Sebaliknya di lembah-lembah sungai dan dataran-dataran endapan, di samping lahannya sangat subur, juga tersedia sumber air yang cukup. Itulah sebabnya daerah dengan kondisi seperti ini menjadi tujuan utama penduduk untuk bermukim dan menetap karena memiliki daya dukung yang tinggi bagi kehidupan. Daerah-daerah dataran rendah dan lembah-lembah sungai merupakan permukiman penduduk yang padat hampir di semua tempat di dunia.
Indonesia yang berada di daerah tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun, memiliki sumber air yang cukup banyak, namun persebaran penduduknya tidak merata. Selain faktor air, temyata masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi pola persebaran penduduk. Misalnya bentang alam yang merupakan puncak gunung yang tinggi, hampir tidak ditemukan permukiman penduduk karena cuaca sangat dingin dan lahannya yang sangat curam sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Selain itu, di daerah puncak gunung yang tinggi sangat sulit memperoleh air. Tempat-tempat seperti ini biasanya hanya dijadikan sebagai objek wisata bagi pendaki gunung. Tetapi, bentang alam yang merupakan pegunungan yang lebih rendah seperti dataran-dataran tinggi dan lereng-lereng pegunungan, telah banyak dijadikan untuk permukiman karena udaranya yang sejuk, lahannya subur, dan sumber air masih bisa diperoleh. Banyak kawasan dataran tinggi telah menjadi kawasan permukiman padat penduduk dan berkembang menjadi kota-kota besar dan kota tempat wisata, seperti: Bandung, Bogor, Berastagi, Takengon, dan Malang.
Demikian juga halnya di bentang alam yang berupa rawa-rawa, baik rawa di pedalaman maupun rawa pantai yang terdapat di Indonesia, persebaran penduduknya sangat jarang. Hal ini disebabkan karena daerah rawa rawa selalu tergenang air sehingga sulit untuk dijadikan perrnukiman dan lahan pertanian. Daerah rawa di Kalimantan telah diusahakan dan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perrnukiman penduduk dengan cara membuat saluran pembuangan air. Pengeringan rawa gambut dengan tujuan untuk digunakan sebagi lahan pertanian yang dikenal sebagai proyek lahan gambut sejuta hektare.
Daerah perrnukiman padat penduduk lainnya di Indonesia terdapat di dataran-dataran endapan yang subur seperti dataran endapan yang luas di bagian utara Pulau Jawa, dataran endapan bagian timur Pulau Sumatera, dataran rendah Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Pembangunan jaringan transportasi pun lebih mudah di dataran rendah dibandingkan dengan daerah rawa-rawa atau pegunungan.

No comments:

Post a Comment